Selasa, 25 Maret 2014

CERITA TANTRI KAMANDAKA

KISAH YANG MENGANDUNG PESAN MORAL : 


1. KISAH KURA- KURA TERBANG


Di sebuah danau yang permai dan jernih airnya, tinggallah seekor kura-kura. Kura-kura itu bersahabat dengan dua ekor angsa laki bini bernama Cakrangga dan Cakranggi. Persahabatan mereka telah lama dibina. Suatu ketika di musim kemarau, saat air danau mulai berkurang, Cakrangga dan Cakranggi minta diri pada sahabatnya itu untuk mengungsi ke sebuah telaga di Gunung Himawan. Air di telaga itu tidak pernah kering walau pada musim kemarau sekali pun. Sekali ini kura-kura rupanya ingin turut mengungsi. Katanya: "Bawalah aku serta. Di sini aku akan sengsara karena kurang air." Masalahnya adalah bagaimana cara kedua angsa itu membawa si kura-kura. Akhirnya mereka mengusulkan agar kura-kura menggigit sepotong kayu dan kedua angsa itu akan mencengkeram kedua ujung kayu sambil terbang. Ada satu pesan dari angsa yang harus diingat dan ditaati kura-kura selama perjalanan nanti. "Kami akan membawa terbang dirimu, kura-kura, dan kamu harus memagut kuat-kuat batang kayu itu. Ingat, janganlah berbicara apa pun. Jika ada yang menegur janganlah dijawab," demikian pesan Cakrangga dan Cakranggi.
       Segeralah mereka terbang. Kura-kura merasa kagum pada keindahan alam yang dilihatnya dari atas. Tak terasa sampailah mereka di atas sebuah ladang yang bernama Wilanggala. Di ladang itu ada dua ekor anjing jantan dan betina yang sedang bermain. Ketika mereka menengadah, tampaklah sesuatu yang ganjil, yaitu seekor kura-kura yang bergelayutan pada sepotong kayu yang sedang dibawa terbang oleh dua ekor angsa. Maka berkatalah anjing betina: "Hai, lihatlah! Ada kura-kura dibawa terbang oleh dua ekor angsa!" Menjawablah si anjing jantan: "Aneh, ya! Tampaknya ada kura-kura tolol sedang belajar terbang pada angsa. Mungkin itu bukan kura-kura, tapi kotoran kerbau kering yang berisi cacing untuk makanan anak-anak angsa." Marahlah si kura-kura mendengar percakapan kedua anjing itu. Mulutnya mulai berdenyut-denyut menahan amarah. Karena gusarnya ia tidak ingat lagi pesan angsa sahabatnya. Ia ingin menjawab ejekan itu dan dibukalah mulutnya untuk berbicara. Akibatnya bisa diduga. Tubuh gemuk si kura-kura melayang jatuh berdebam di tanah. Kedua anjing itu segera melompat memburu si kura-kura. Keduanya makan besar menikmati daging kura-kura. 





Kira-kira pesan moral apakah yang ingin disampaikan dari kisah tersebut di atas..............???????

Cocokkan Jawaban anda di sini :

KLIK DI SINI UTK MENCOCOKAN JAWABAN ANDA (Kode KKT1)




Minggu, 23 Maret 2014

KALENDER SAKA BALI

PENDAHULUAN



          Sejak ribuan tahun yang silam Kalender telah diciptakan oleh para Penciptanya, sesuai dengan pola atau sistematika yang melandasinya. Hal ini terkait dengan makna dari penggunaan kalender itu, yang merupakan sarana untuk mengetahui jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan para pemakainya,yang umumnya dikenal dengan istilah “hari-baik” atau secara khusus di Bali dikenal dengan istilah “ala ayuning dina” atau “dewasa – ayu”, lebih utama lagi adalah keterkaitan dengan upacara – upacara ke-agamaan yang di selenggarakan oleh umat.
            Masing – masing Kalender memiliki pola atau sistematikanya tersendiri disamping juga memiliki keistimewaan – keistimewaan dalam penterapannya. Dan apabila diperhatikan secara cermat, pola atau sistematikanya suatu Kalender secara garis besar mengandung tiga unsur pokok sebagai tolak ukur Kalender , yaitu :
1.      Unsur matematis : unsur matematis yang dipakai dasar perhitungan dalam menentukan umur hari, umur bulan, umur tahun
2.      Unsur sistematis : unsur sistematis yang melandasi penentuan hari-bulan-tahun serta penetapan Tahun Baru nya
3.      Unsur geografis : unsur posisi tempat/daerah serta keadaan alam yang terkait dengan hari-bulan-tahunnya.
Dengan tiga unsur inilah dapat dipakai tolak ukur mengkaji keakuratan suatu Kalender, sehingga Kalender itu menjadi patent. Dari unsur sistematis, dikaji perhitungan Tahunnya, dari unsur sistematis, dikaji perhitungan Bulannya, serta dari unsur geografisnya dikaji penetapan tutup/pergantian tahunnya.


POLA UMUM KALENDER
            Apabila diperhatikan, terdapat lima sistem Tahun yang melandasi suatu sistematika Kalender antara lain :

1.      TAHUN – SURYA ( SOLAR SISTEM )
      Pola Kalender yang berpedoman dengan jangka – waktu peredaran Bumi mengelilingi matahari, yang dinyatakan satu tahun, disebut satu tahun-surya. Umur tahunnya :365 hari, 48 menit, 46 detik ( 365,22 ) hari.
Ini dipakai oleh Kaelender Masehi, Kalender Pranatamasa.

2.      TAHUN – CANDRA ( LUNAR SISTEM )
Pola kalender yang berpedoman dengan jangka waktu peredaran Bulan mengelilingi Bumi, selama: 29 hari, 12 jam, 44 menit, yang dinyatakan satu bulan, dan untuk satu tahunnya adalah 12 bulan. Disebut satu tahun-candra
Umur tahunnya :354 hari, 48 menit, 36 detik
Ini dipergunakan oleh Kalender Hijriah, Kalender Caka-Jawa.



3.      TAHUN SURYA-CANDRA ( LUNI – SOLAR SISTEM )
      Pola tahun kalender yang berhubungan dengan penggabungan: Tahun – Surya dengan Tahun-Candra. Umur tahunnya dua macam, Tahun Panjang, berumur 13 bulan-candra, dan tahun Pendek berumur 12 bulan.
Ini dipergunakan oleh kalender Caka, Budha, Imlek.
4.      TAHUN  WUKU
      Pola Tahun Kalender Wuku hanya berpedoman dengan daur hari, yang di sebut Wewaran dan Wuku. Umur Tahun Kalender Wuku adalah 420 hari atau 2 oton  (2 kali daur Wara-Wuku)

5.      TAHUN SURYA- CANDRA-WUKU (KALENDER BALI)                      
      Pola tahun kalender yang berpedoman dengan penggabungan : Tahun – Surya – Tahunn- Candra – dan Wuku, umur tahunnya ada 2 macam. Tahun panjangnya,berumur 13 bulan chandra, dan tahun pendek berumur 12 bulan-candra,sedangkan pola tahun Wukunya,dipakai dasar untuk penetapan Purnama-Tilem yang dinamakan “Pangalantaka” ini khusus hanya dipergunakan oleh Kalender Caka Bali.

KALENDER CAKA BALI
            Kalender Caka Bali adalah kalender yang diciptakan di Bali secara khusus dengan menggabungkan dari semua sistem Tahun yaitu Tahun Surya – Tahun Candra – Tahun Wuku, dengan mengacu pada kegunaan Kalender tersebut bagi pemakainya. Dalam hal merencanakan suatu hari baik atau dewasa ayu untuk suatu pelaksanaan kegiatan Odalan/Pujawali disuatu Pura, akan selalu berpedoman dengan kalender ini.
            Berbeda dengan kalender-kalender lain, kalender Caka Bali ini,belum bisa dipastikan siapa penciptanya. Namun melihat perkembangannya dan peredarannya Kalender Caka Bali, maka akan diketemukan Baliau : Bapak I Gusti Bagus Sugriwa(alm) dan Bapak I Ketut Bambang Gde Rawi (alm) adalah sebagai perintis Kalender yang diwarisi sekarang ini.
            Telah ditetapkan pola dasar sistematika Kalender Caka Bali yang berlaku sejak dahulu,menyangkut unsur Matematisnya, Sistematikanya dan unsur Geografis penetapan bulan/sasih nya dan tutup tahunnya amat tepat, serta mengandung unsur unsur religius.                    
            Bagi mereka yang menguasai ilmunya Kalender Caka Bali, akan dapat memahami bagaimana sebenarnya kalender caka bali itu dan dapat pula menemukan keistimewaan-     keistimewaan yang terpendam pada kalender itu. Walaupun memang sulit dalam perhitungan, namun begitu istimewa dalam pemakaiannya,serta menunjukan ciri khusus, tiada duanya di dunia ini.
            Akan tetapi bila hanya mengetahui ilmunya membuat kalender tentunya tidak akan bisa menemukan keistimewaan yang terpendam pada kalender itu.

UNSUR MATEMATIS KALENDER CAKA BALI
            Dari unsur matematis akan dapat ditelusuri bagaimana perhitungan serta matematis yang melandasi kalender caka bali, yang menyangkut umur hari, umur bulan, serta umur tahunnya.
            Kalender Caka Bali yang menerangkan seluruh pola dasar kalender, yang terdiri dari Tahun Surya+Tahun Candra+Tahun Wuku, sudah tentunya dasar perhitungannya juga merangkum kesemuanya itu.
           
            Perhitungan TAHUN                                                                                                           Bilangan tahun kalender caka bali dilandasi oleh kalender caka di india, awal tahunnya berlaku mulai Tahun 79 Masehi, (selisih 78 Tahun dengan tahun masehi ) tutup tahunnya, seolah-olah terkait dengan Tahun Caka (bulan maret) umur tahunnya berpedoman dengan tahun surya candra sehingga terdapat dua macam umur tahun. Tahun panjang terdiri dari 13 bulan dan tahun pendek 12 bulan.

            Perhitungan BULAN
            Perhitungan umur bulan (sasih) kalender caka bali secara matematis berpedoman dengan tahun candra,hanya saja secara kumulatif umur bulannya adalah 29 hari atau 30 hari karena terkait dengan pola kalender Wuku.
            Dalam penetapan awal bulan berpedoman dengan bulan terbit (penanggal/suklapaksa), purnama adalah pertengahan bulan. Setelah purnama ditemukan Panglong / Kresnapaksa, dan akhir bulan adalah Tilem.
            Penetapan Purnama dan Tilem terpolakan pada rumusan Pengalihan Purnama / Tilem yang disebut Pangalantaka.
            Pada Pangalantaka ini tertata berdasarkan kalender Wuku, secara pasti penetapan hari Purnama dan hari Tilem menurut wewaran atau wukunya.
            Walaupun banyak Wariga yang memuat tentang pengalihan Purnama – Tilem, sesuai dengan Pengunalatriannya namun tidak semua Wariga dapat dipakai dasar Pengalihan, dan itu memerlukan kemampuan pengkajian.

                                                                                 
UNSUR SISTEMATIS KALENDER CAKA BALI  

1.      PENYISIPAN “ BULAN KE 13” KALENDER CAKA BALI
Unsur sistematis kalender dipengaruhi oleh unsur matematisnya kalender itu sendiri, disamping pula ada unsur-unsur kesakralan / religius dalam pemakaian kalender itu. Apabila kalender itu memakai matematis tahun candra sistematikanya juga mengikuti pola tahun candra, begitu pula bila matematisnya tahun surya maka sistematikanya juga pola tahun surya.
Sistematika kalender caka bali, menterpadukan seluruh sistematika kalender karena itulah maka umur tahunnya ada dua macam. Tahun panjang dengan 13 bulan, dan tahun pendek dengan 12 bulan. Ini bisa terjadi akibat penggabungan tahun surya candra.
Pada saat tahun panjang yang berumur 13 bulan, akan diketemukan suatu permasalahan yaitu dalam menetapkan sisipan 1 bulan yang dikenal dengan istilah : “ Pengerepetingasih “  untuk kalender caka bali atau “Nampih Asih” untuk kalender Nirayana.
Disinilah letak permasalahan, yang dihadapi bagi pemakai kalender dengan sistem tahun surya candra seperti : kalender Budha/Imlek dan kalender caka bali. Bulan keberapa tepatnya yang pas untuk disisipkan / ditampih.

Kalender caka bali, menempatkan bulannya yang ke 13 dengan nama malamasa, hanya pada dua jenis sasih yaitu pada sasih Jhista dengan nama MALA-JHISTA, dan pada sasih Sadha dengan nama MALA-SADHA, suatu sistematika yang sangat praktis diantara penampih sasih.
Sistematika PENGEREPETING SASIH kalender caka bali, mengacu pada suatu sumber Wariga yang tercantum dalam PUSTAKA WARIGA berbunyi PEMURWANING SASIH :
Mwah kengetakena ikang mimitaning sasih ring Praptipada ikang Suklapaksa,
Mwah madyaning sasih ana ring Purnama – Suklapaksa, Mwah panelasaning sasih ana ring Tilem – Kresnapaksa pwaya.
Maka pamurwaning sasih kehanan dening Suklapaksa lan Kresnapaksa, liur danu lawan segara, esok lawan sore.
Mwah aja lipia:PENGEREPETING SASIH ngaran MALAMASA
Ana ring JHISTA-SADHI panemugelangin Daksinayana, Iswayana, Uttarayana, panglanglanging surya.
ARTI BEBAS
Untuk diingatkan, mulainya suatu sasih adalah awalnya Suklapaksa.
Dan pertengahan sasih adalah purnama – Suklapaksa serta berakhirnya sasih adalah Tilem – Kresnapaksa itu.
Keberadaan sasih yang terdiri dari Suklapaksa dan Kresnapaksa,
Bagaikan danau dan samudra, pagi dan sore
Dan jangan lalai : PENGEREPETING SASIH  dinamakan MALAMASA, ada pada  JHISTA-SADHA, pertemuan putaran Daksinayana ( ke selatan ), Iswayana ( ke tengah ), Uttarayana ( ke utara ), peredaran Matahari.

Dari sumber sastra wariga yang tercantum diatas, apabila diperhatikan dan dijabarkan maka akan terdapat suatu rumusan sistematika yang praktis. Kajian secara sistematis, menunjukan bahwa penggabungan dua sistem tahun, antara sistem tahun surya dengan tahun candra dalam periode 19 tahun surya akan terdapat 7 kali tahun panjang dengan bulan ke 13 nya.
Ini berarti dalam 19 tahun surya akan terdapat 7 kali sasih malamasa. Persoalan sekarang adalah tolak ukur apa yang dipakai rumusan penempatan malamasa itu,atau pada tahun-tahun keberapa malamasa itu dicantumkan, dan sasaran apa yang dicari dalam penentuan rumusan malamasa itu. Disinilah pokok permasalahannya dalam menentukan penetapan malamasa tersebut.
Oleh penciptanya, dengan ageman “Pamurwaning Wariga” itu telah ditetapkan bahwa kalender caka bali memiliki rumusan malamasa yang dinamakan “Pengerepeting Sasih” dengan menetapkan malamasanya pada Sasih Jhista dengan nama “Mala Jhista” , dan pada sasih sadha dengan nama “Mala Sadha” rumusannya malamasa telah ditetapkan secara pasti dan praktis.